Jumat, 14 Januari 2022

MATA LUKA SENGKON KARTA


 MATA LUKA SENGKON KARTA

Serupa Maskumambang,

pupuh mengantarkan wejangan hidup


kecapi dalam suara sunyi menyendiri

Pupuh dan kecapi membalut nyeri

menyatu dalam suara genting


terluka, melukai, luka-luka

menganga akibat ulah manusia


Terengah-Engah dalam Tabung dan Selang

aku seorang petani bojongsari

menghidupi mimpi

dari padi yang ditanam sendiri


kesederhanaan panutan hidup

dapat untung

dilipat dan ditabung


1974 tanah air yang kucinta

berumur dua puluh sembilan tahun

waktu yang muda bagi berdirinya sebuah negara


lambang garuda

dasarnya pancasila

undang-undang empat lima

merajut banyak peristiwa


peralihan kepemimpinan yang mendesak

bung karno diganti pak harto

dengan dalih keamanan negara


pembantaian enam jenderal satu perwira

enam jam dalam satu malam

mati di lubang tak berguna

tak ada dalam perang mahabarata

bahkan di sejarah dunia

hanya di sejarah indonesia

pemusnahan golongan kiri

PKI wajib mati


pemimpin otoriter

REPELITA

rencana pembangunan lima tahun

bisa jadi

rencana pembantaian lima tahun


di tahun-tahun berikutnya

kudapati penembak misterius

tak ada salah apalagi benar

tak ada hukum negara


pembantaian dimana mana

diburu sampai got

dor di mulut

dor di kepala

diikat tali

dikafani karung

penguasa punya tahta

yang tidak ada

bisa diada-ada


akulah sengkon yang sakit

berusaha mengenang setiap luka

di dada, di punggung

di batuk yang berlapis tuberkulosis


Malam Jumat Dua Satu November 1974

setiap malam jum’at

yasin dilantunkan dengan hidmat

bintang-bintang berdzikir di kedipannya


suara-suara binatang

melengkingkan pujian untuk tuhan


istriku masih mengenakan mukena

mengambilkan minum dari dapur

di kejauhan terdengar warga desa gaduh

“ya...adili saja si keluarga rampok itu”

“usir saja dari kampung ini”

“bakar saja rumahnya”

“betul”


di lubang bilik

ada banyak obor dan petromak menyala

teriakan tegas

“sodara sengkon, sodara sudah dikepung ABRI!

kalau mau selamat, menyerahlah!

sodara sudah tidak bisa kabur !”


istriku kaget

“kok kamu, kang?”

kebingungan

“demi allah saya tidak berbuat jahat!”

masih dalam suara yang sama

“kalau sodara tidak keluar

dalam hitungan tiga

kami akan mengeluarkan

tembakan peringatan

satu, dua… ti…g….”

secepat yang kubisa 

di pintu ratusan warga

mulai melontarkan sumpah serapah

anjing!

babi!

Bagong!

tai!

sampah!

segalanya ada di mulut warga

kata-kata tak mewakili peri kemanusian

warga desa bengis seperti serigala

tak ada rasa kasihan

dari batu sampai bambu

dari golok sampai balok

diacung-acungkan ke arahku

serempak berkata “allahu akbar!!!”

batu, bambu, dan balok beterbangan ke arahku

“sodara-sodara sekalian, tolong hentikan

biarkan pengadilan yang memutuskan hukuman”



aku masih diselimuti kebingungan

disambut rajia seluruh badan

kepalaku ditodong senjata laras panjang

mendekati puluhan ABRI dan Polisi

“ya… gantung saja!”

“dasar orang tak tahu diri!”

“sampah masyarakat!”

“anying! goblok!

dulur aing paeh

gara-gara sia! anying!”

duk! dak!

aku dikerumuni pukulan warga

ABRI dan Polisi ikut-ikutan menendang


dor!


suara tembakan di langit

terdengar sayup

aku terkapar di tanah

seorang ABRI menggusurku

darah dan becek tanah bercampur di tubuh


aku dilemparkan ke atas bak mobil

kondisi antara sadar atau tidak


selang kejadian

sesosok tubuh lemparkan lagi ke atas bak mobil

kuperhatikan wajah yang penuh luka itu

“karta?”

kami ditangkap dengan tuduhan perampokan

juga pembunuhan.


Link vidio klik tautan dibawah ini, jgn lupa subscribe, like dan share !!!


https://youtu.be/Udjxasd41Ag




1 komentar:

KATA BUNG KARNO

KATA  BUNG KARNO Karya Peri Sandi H.  Inggris kita linggis, Amerika kita setrika Itu kata Bung Karno Kompeni maunya untung saja Inggris kita...